Indonesia adalah negara dengan jumlah sekolah lebih dari dua ratus
ribu sekolah, dua juta tujuh ratus ribu guru, dan empat puluh lima juta murid.
Namun sayangnya Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat pendidikan
yang paling rendah. Menurut Deutsche Welle, Indonesia menduduki peringkat bawah
yaitu peringkat 108 di dunia dengan indeks skor hanya 0,603. Skor ini masih
sangat jauh dibandingkan dengan negara Singapura yang menduduki peringkat
sembilan dunia dengan skor 0,768. Secara umum pendidikan di Indonesia masih
kalah dengan negara Palestina, Mongolia, dan Samoa.
Seorang peneliti bernama Lant
Pritchett yang meneliti khusus anak-anak di Jakarta yang berumur 15 tahun
mengungkapkan bahwa anak-anak di Jakarta jauh tertinggal 128 tahun dibandingkan
dengan negara-negara lain. Menurut data dari PISA, dari tahun ke tahun ranking
Indonesia selalu dibawah dalam urusan matematika, sains, dan literasi. Hal
tersebut membuktikan bahwa para pelajar banyak yang merasa tidak senang dengan
sekolah.
Berbicara tentang pendidikan, pasti
akan membahas tentang sekolah. Berbicara tentang sekolah pasti tentang guru. Peforma
guru-guru di Indonesia dinilai sangat kurang. Hal ini dibuktikan dengan hasil
Ujian Kompetensi Guru (UKG) yang menjadi program kementrian pendidikan dan
kebudayaan. Dalam UKG tersebut guru-guru mendapatkan nilai dengan rata-rata nasional
53,02 dari nilai maksimal 100. Pemerintah seharusnya lebih memperhatikan
kompetensi guru di Indonesia agar para pelajar merasa senang dan nyaman dalam
pembelajaran.
Pemerintah seharusnya mencontoh
sistem pembelajaran yang di terapkan di negara-negara maju seperti Finlandia. Pembelajaran
di Finlandia tidak memperkenankan anak-anak dibawah usia 7 tahun untuk
bersekolah di tingkat dasar. Dengan usia
yang belum matang betul untuk mengenyam pendidikan di sekolah dasar, anak akan
jenuh dan cenderung tak optimal mengenyam pendidikan. Selain itu, hanya ada
satu tes standar wajib yang ditetapkan oleh Finlandia saat para pelajar berusia
16 tahun. Di Indonesia, kelas satu SD saja sudah dibebani dengan ulangan
harian.
Pembelajaran di Finlandia tidak
membeda-bedakan tingkat kepintaran anak. Anak yang pintar maupun tidak
ditempatkan pada kelas yang sama. Tidak seperti di Indonesia yang banyak
terdapat kelas akselerasi, kelas unggulan, dan bahkan kelas internasional.
Pembagian kelas yang diterapkan Indonesia seakan-akan menjadi jurang bagi
pelajar. Selain itu, tidak ada jurang perbedaan yang signifikan antara pelajar
yang pandai maupun tertinggal di negara Finlandia, sedangkan di Indonesia siswa
pandai dan tertinggal tampak dengan jelas. Hal ini yang memicu adanya
diskriminasi sekolah. Sekolah akan memperhatikan siswa-siswa yang berprestasi
dan mengesampingkan siswa yang tertinggal.
Guru-guru di Finlandia hanya
menghabiskan 4 jam pembelajaran di kelas. Selain itu, mereka juga mendapatkan
pendidikan pengembangan profesi setiap minggu. Guru disana juga menilai siswa
tidak hanya dari akademis saja, akan tetapi juga melihat sikap dan tingkah laku
serta karakter dari siswa yang mereka ajar. Pelajar sekolah dasar lebih
diperhatikan karakternya ketimbang akademisnya karena karakter anak akan terbawa
sampai dewasa kelak. Guru disana juga sangat leluasa dalam mengatur
siswa-siswanya saat pembelajaran sains karena dalam saat kelas sains boleh
diisi maksimal 16 siswa. Hal ini memudahkan para guru dan pelajar untuk
melakukan penelitian. Di Indonesia saat penelitian pembelajaran sains masih
banyak siswa yang mengantre menuggu giliran.
Guru-guru di Finlandia juga harus
mendapatkan gelar master untuk bisa mengajar di kelas. Untuk menempuh studi
lanjut tersebut semua biaya akan ditanggung oleh pemerintah. Akan ada tes
kemampuan guru yang diadakan rutin untuk menjamin mutu guru. Sedangkan di
Indonesia, masih banyak guru yang belum lulus sarjana S1. Jika guru tersebut
ingin menempuh pendidikan untuk memperoleh gelar master, kebanyakan harus
menanggung biaya sendiri. Pemerintah seharusnya memperhatikan betul kompetensi
yang dimiliki oleh guru. Tidak sembarangan guru bisa mengajar di sekolah agar
pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan sesuai rencana.
Guru sangat berpengaruh pada
karakter siswa. Sekolah dasar seharusnya dijadikan tempat untuk membentuk
karakter siswa. Guru-guru sekolah dasar haruslah mengenal betul karakter
siswanya. Pembelajaran harusnya diisi kegiatan-kegiatan yang menyenangkan tidak
hanya duduk dibangku. Banyak sekolah-sekolah dasar yang sangat tertinggal dalam
segi kompetensi guru maupun fasilitas pembelajarannya. Tidak jarang diberitakan
bahwa untuk pergi ke sekolah para siswa harus menempuh jalanan yang terjal dan
jarak yang jauh untuk pergi ke sekolah. Padahal anak tersebut sudah sangat
semangat untuk menerima pembelajaran. Jika dibiarkan terus begini, bukan tidak
mungkin mereka sebagai generasi penerus akan menurun tingkat motivasi
belajarnya.
Karakter anak bisa dibentuk dengan
perlakuan dari guru. Beberapa hal sederhana berikut bisa dilakukan oleh guru
untuk membentuk karakter siswa.
1.
Jadikan diri
sebagai contoh
Guru
dipandang murid sebagai orang tua yang lebih dewasa, itu berarti murid menilai
guru mereka merupakan contoh dalam bertindak dan berperilaku. Baik sikap baik
maupun buruk, itu dapat mempengaruhi murid bagaimana cara bersikap dengan
sesama. Hal ini tentu, membuat guru harus pandai dalam menjaga sikap untuk
memberikan contoh yang terbaik. Dengan mengingat diri sendiri sebagai contoh,
maka guru akan lebih berhati-hati dalam bersikap sehingga lebih bijak dari
setiap tindakan yang akan diambil. Dari memberikan contoh, diharapkan murid
bisa mengikuti sisi positif yang dimiliki guru.
2.
Mengapresiasi
usaha siswa
Sebagai
pengajar, fokus untuk menilai murid dari segi akademis memang penting. Tetapi
perlu diingat juga untuk menghargai kebaikan yang dilakukan murid. Caranya
dengan mengapresiasi usaha murid tanpa selalu membandingkan dengan nilai yang
didapatkan. Misalnya dengan memberikan pujian bagi murid yang tepat waktu, rajin
mengerjakan tugas, atau bersikap baik selama di sekolah. Dengan membiasakan
ini, murid pun juga dapat mengapresiasi diri atas usaha yang telah dilakukan
sehingga akan terbangun karakter yang terus mau belajar dan memperbaiki diri
untuk lebih baik.
3.
Menuangkan
nilai moral dalam pembelajaran
Kalau
sekadar materi pelajaran, mungkin semua bisa saja tahu karena tertulis dalam
buku pelajaran. Tetapi bagaimana dengan nilai moral? Ada baiknya dalam
pelajaran yang diajarkan juga menanamkan nilai moral yang bisa dijadikan bahan
pelajaran hidup. Misalnya, saat mengajarkan pelajaran Matematika guru tidak
hanya sekadar memberikan rumus dan cara pengerjaan kepada murid. Tetapi juga
bisa mengajarkan nilai kehidupan seperti dengan mengerjakan soal Matematika
kita bisa belajar untuk bersabar dan berusaha untuk memecahkan suatu masalah
dengan mengasah logika berpikir. Dengan begitu, nantinya ketika murid sedang
menghadapi suatu masalah kedepannya, bisa berpikir optimis bahwa setiap masalah
ada jalan keluarnya selama berusaha.
4.
Jujur dan
terbuka pada kesalahan
Guru
juga manusia, tidak luput dari kesalahan meski tidak pernah berniat melakukan
hal itu. Misalnya, ketika guru datang terlambat atau salah mengoreksi jawaban
murid. Untuk memberikan contoh yang baik, guru sebaiknya mau mengakui kesalahan
yang dibuat sekecil apapun itu. Mungkin kadang ada rasa gengsi, tetapi ini bisa
menjadi pelajaran yang baik pada murid. Bahwa sebagai manusia kita harus berani
jujur sama diri sendiri dan mau mengakui kesalahan yang telah diperbuat. Dari
situ, murid bisa belajar bagaimana cara untuk memperbaiki kesalahan dan berani
bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuat.
5.
Memberi
kesempatan siswa untuk menjadi pemimpin
Saat
ini, mempunyai karakter memimpin merupakan hal yang krusial untuk dimiliki.
Menyadari hal ini, ada baiknya guru juga bisa membantu anak didik untuk
berlatih jiwa kepemimpinan mereka. Cara sederhananya, bisa dengan membuat tugas
kelompok dan memastikan setiap anggota mempunyai kesempatan sebagai ketua
kelompok. Jadi, tidak hanya murid itu-itu saja yang jadi ketua kelompok, tetapi
semua bisa belajar jadi pemimpin. Setelah melakukan aktivitas ini, guru bisa
mengevaluasi hal positif yang bisa jadi pembelajaran murid untuk memimpin lebih
baik lagi. Berilah masukan yang memotivasi, jadi bagi murid yang merasa kurang
percaya diri bisa semangat untuk terus belajar lebih baik lagi.
Sebagai generasi penerus bangsa,
masih banyak siswa yang memiliki karakter yang kurang baik. Hal ini sering
dibuktikan dengan diberitakannya pelajar-pelajar yang bertindak menyalahi
aturan. Seperti contohnya seorang pelajar yang tega menganiaya bahkan membunuh
gurunya sendiri, terjadi tawuran antar pelajar, penggunaan narkoba, banyak
pergaulan bebas, dan masih banyak lagi. Jika kejadian-kejadian tersebut terus dibiarkan
tanpa ada penanganan bukan tidak mungkin generasi penerus bangsa yang
berkarakter Pancasila akan binasa.
Saat siswa beranjak remaja dan
memasuki sekolah menengah, para guru pun juga harus memberikan pembelajaran
sekaligus menguatkan karakter dari siswa tersebut. Guru sebaiknya mengarahkan
para siswanya untuk menumbuhkan sikap ulet, semangat, dan terampil dalam
mengahadapi persoalan yang ada. Siswa pada zaman sekarang sudah tidak bisa
dilepaskan lagi dengan yang namanya teknologi. Dalam pembelajaran, sebaiknya
guru juga memperkenalkan materi pembelajaran dengan teknologi. Dengan hadirnya
teknologi di dalam pembelajaran akan menumbuhkan minat dan karakter dari siswa itu sendiri.
Generasi penerus harus disiapkan
mulai dari sekarang. Salah satu profesi untuk menyiapkan generasi tersebut
adalah guru. Guru menjadi panutan bagi siswa dalam menentukan sikap mereka.
Guru tidak hanya sekedar memberikan materi pembelajaran namun juga menumbuhkan
karakter Pancasila kepada siswa.