Senin, 16 Desember 2019

Artikel Ilmiah


Dewasa ini, kalangan siswa sering memiliki pandangan yang kurang baik tentang belajar. Siswa menganggap belajar adalah suatu kegiatan kurang menyenangkan yang terpaksa dan harus dilakukan. Oleh karena itu, orang tua dan guru berperan penting untuk mengubah pandangan siswa terhadap belajar dan menjadikan sekolah sebagai salah satu tempat yang menyenangkan untuk belajar. Thorndike (dalam Arifin, 2009) menyatakan belajar akan lebih berhasil apabila respon murid terhadap suatu stimulus segera diikuti dengan perasaan senang atau kepuasan. Sehingga diperluakan sebuah media pembelajaran yang mampu menciptakan suasana yang menyenangkan.
Salah satu media pembelajaran yang dapat menarik minat dan perhatian siswa terhadap terhadap pelajaran matematika yaitu dengan menggunakan media permainan. Menurut Komariyah (2013) Penambahan permainan dalam pembelajaran memiliki dua aspek positif, yaitu aspek kemenarikan dan aspek mendidik. Aspek kemenarikan diperoleh dari situasi belajar yang santai sambil bermain yang diterapkan dalam pembelajaran. Sedangkan aspek mendidik diperoleh dari penerapan konsep yang dimiliki dengan menerapkan strategi serta kreativitas dari siswa untuk menyelesaikan permainan dalam pembelajaran. Dengan adanya aspek-aspek tersebut, diharapkan dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa sehingga siswa tidak cepat jenuh dan bosan dalam pembelajaran.
Dalam melakukan sebuah permainan dibutuhkan kreativitas untuk menyelesaikan permainan tersebut. Menurut Utami Munandar (1992:47) kreativitas merupakan suatu kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas dalam berfikir serta kemampuan untuk mengelaborasi suatu gagasan. Kreativitas juga merupakan salah satu tujuan nasional menurut UU. No. 20 Tahun 2003. Akan tetapi, pada kenyataannya pengembangan kreativitas tampaknya selalu menjadi wilayah yang sering terabaikan, padahal kreativitas adalah wilayah manusia yang paling unik yang membedakan dari makhluk lainnya.
Pada pelajaran matematika, kreativitas siswa sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan persoalan yang diberikan. Menurut Ningsih (2012), siswa yang memiliki kemampuan berpikir kreatif, maka dalam menyelesaikan masalah, siswa tersebut akan menggunakan berbagai macam strategi dalam pemecahan suatu masalah. Strategi pemecahan masalah itu banyak dipengaruhi oleh gaya kognitif siswa. Ketika siswa memiliki gaya kognitif yang berbeda maka cara menyelesaikan masalah juga berbeda, sehingga perbedaan itu juga akan memicu perbedaan berpikir kreatif mereka. Sehingga, dalam makalah ini penulis mencoba untuk membuat media pembelajaran permainan yang membutuhkan kreativitas dalam menjalankannya. Penulis memberi nama “ZUZO”: The Awesome Mathematical Board Game.

Apakah teknologi itu baik atau buruk ?


Jika ada yang berpikir bahwa teknologi pasti baik, itu merupakan hal yang salah. Zaman dahulu salah satu hasil rekayasa teknologi adalah adanya sebuah bom nuklir yang dibuat oleh Amerika. Mereka mengumpulkan ilmuwan-ilmuwan pintar di dunia untuk bergabung dalam sebuah projek bernama Manhattan Project. Salah satu ilmuwan yang ikut dalam projek ini adalah saintis terkenal Albert Einstein. Ilmuwan-ilmuwan tersebut dikumpulkan untuk membuat suatu mahakarya sebuah bom yang belum pernah ada sebelumnya.
Bom nuklir yang dibuat digunakan untuk menghancurkan kota Hiroshima dan Nagasaki pada bulan Agustus 1945. Akibat bom tersebut, sedikitnya 129.000 penduduk kota tersebut meninggal dunia. Pada saat itu Jepang dan Amerika memang sedang mengalami peperangan dan Jepang pun menyerah tanpa syarat akibat bom tersebut.
Teknologi memungkinkan kejadian tersebut terjadi. Teknologi tidak buruk, tetapi teknologi juga tidak bisa dikatakan baik. Teknologi hanyalah sekedar alat yang baik atau buruknya tergantung dari pencipta dan penggunanya. Seperti misalnya pisau. Pisau bisa bermanfaat apabila kita menggunakannya untuk memotong bahan-bahan makanan. Akan tetapi, pisau bisa juga menjadi petaka apabila kita menggunakannya untuk melukai orang. Baik atau buruknya sebuah pisau tergantung dari penggunanya.
Dari kejadian bom nuklir diatas, terciptalah suatu inovasi baru yang disebut dengan nuclear energy. Beberapa negara seperi Perancis, Slovakia, Ukraina. Belgia, Swedia, Swiss, Bulgaria, dan banyak negara lain sangat bergantung pada energi nuklir sebagai sumber daya alternatif. Nuklir diibaratkan seperti pisau. Nuklir bisa baik, atau bisa dianggap buruk, tergantung pengguna.
Pada zaman sekarang, teknologi sudah berkembang dengan pesat. Semua bisa didapatkan dengan hanya mengetik sesuatu yang diinginkan di google. Ilmu pengetahuan, barang luar negeri, teman, dan lain-lain bisa didapatkan melalui teknologi internet. Akan tetapi, melalui internet, tercipta pula kasus bulliying, penipuan, pelecehan, dan lain sebagainya. Teknologi memang harus digunakan untuk hal-hal yang baik.
Pendapat tentang baik buruknya suatu teknologi dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Para ilmuwan kini menciptakan ribuan robot untuk membantu suatu perusahaan. Dengan adanya robot-robot tersebutt, banyak perusahaan yang mendapatkan hasil produksi yang maksimal dan pengeluaran biaya yang tidak banyak. Dari sudut pandang suatu perusahaan memang kemajuan teknologi sangat bermanfaat dan membantu.
Di sisi lain, dengan hadirnya robot-robot pada perusahaan membuat para pekerja kehilangan pekerjaannya. Banyak perusahaan yang menggantikan pekerjanya dengan robot untuk menyelesaikan produksinya. Akibatnya para pekerja mau tidak mau harus mencari pekerjaan yang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan adanya robot tersebut juga membuat kesempatan kerja menjadi sempit. Teknologi memang sangat berkembang dengan pesat.
Para pemuda zaman sekarang menggunakan teknologi ke arah hal yang salah. Mereka menggunakan teknologi tidak untuk kebermanfaatan namun hanya untuk bersenang-senang. Banyak sekali kasus-kasus kejahatan yang berawal dari teknologi misalnya terjadi pelecehan seksual yang dilakukan di media sosial serta hasutan-hasutan yang menyeleweng dari ajaran agama. Hal tersebut mengakibatkan para pelaku dapat semena-mena meneror korban tanpa korban kenali siapa pelaku tersebut. Dengan hadirnya media sosial seperti facebook, instagram, twitter, dan lain-lain memungkinkan semua hal tersebut terjadi.
Salah satu kasus kejahatan yang berbahaya yaitu marak terjadinya hacker. Para hacker biasanya menggunakan suatu aplikasi pemrograman untuk mencuri data pribadi seseorang. Banyak perusahaan yang licik yang menyewa seorang hacker untuk menjatuhkan pesaing mereka. Kebanyakan para hacker adalah pemuda yang haus dan memiliki rasa ingin tau yang tinggi tentang suatu aplikasi komputer. Para hacker melakukan kejahatan tersebut karena diiming-imingi imbalan yang fantastis.
Media sosial juga sangat bermanfaat apabila pengguna dapat menggunakannya dengan tepat. Sosial media facebook dan instagram sanagat berguna untuk berbagi informasi-informasi yang bermanfaat kepada orang lain. Selain itu media sosial juga dapat membantu mempromosikan usaha yang sedang dikembangkan. Media sosial chatting berguna sebagai alat komunikasi dengan orang lain. Perkembangan teknologi membuat komunikasi dapat dilakukan dengan mudah dan efisien.
Baru-baru ini teknologi internet 5G telah dihadirkan di berbagai dunia. Dengan hadirnya teknologi tersebut muncul alternatif-alternatif dalam menghadapi persoalan. Misalnya kini ditemukan alternatif operasi pasien jarak jauh yang dilakukan oleh dokter dengan menggunakan robot dengan koneksi internet 5G. Hal ini dapat menangani korban dengan cepat.
Para generasi milenial sekarang haruslah mendapat bimbingan dan arahan mengenai teknologi yang semakin canggih. Mereka harus bisa membedakan perbuaatan yang menyimpang dan yang tidak. Mereka harus tahu akibatnya bila menyalahgunakan suatu teknologi.
Apakah dengan teknologi pengguna ingin membuat suatu energi nuklir ? Atau ingin membuat bom ? Tergantung pengguna.

Guru Sebagai Panutan Pelajar


Indonesia adalah negara dengan jumlah sekolah lebih dari dua ratus ribu sekolah, dua juta tujuh ratus ribu guru, dan empat puluh lima juta murid. Namun sayangnya Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat pendidikan yang paling rendah. Menurut Deutsche Welle, Indonesia menduduki peringkat bawah yaitu peringkat 108 di dunia dengan indeks skor hanya 0,603. Skor ini masih sangat jauh dibandingkan dengan negara Singapura yang menduduki peringkat sembilan dunia dengan skor 0,768. Secara umum pendidikan di Indonesia masih kalah dengan negara Palestina, Mongolia, dan Samoa.
            Seorang peneliti bernama Lant Pritchett yang meneliti khusus anak-anak di Jakarta yang berumur 15 tahun mengungkapkan bahwa anak-anak di Jakarta jauh tertinggal 128 tahun dibandingkan dengan negara-negara lain. Menurut data dari PISA, dari tahun ke tahun ranking Indonesia selalu dibawah dalam urusan matematika, sains, dan literasi. Hal tersebut membuktikan bahwa para pelajar banyak yang merasa tidak senang dengan sekolah.
            Berbicara tentang pendidikan, pasti akan membahas tentang sekolah. Berbicara tentang sekolah pasti tentang guru. Peforma guru-guru di Indonesia dinilai sangat kurang. Hal ini dibuktikan dengan hasil Ujian Kompetensi Guru (UKG) yang menjadi program kementrian pendidikan dan kebudayaan. Dalam UKG tersebut guru-guru mendapatkan nilai dengan rata-rata nasional 53,02 dari nilai maksimal 100. Pemerintah seharusnya lebih memperhatikan kompetensi guru di Indonesia agar para pelajar merasa senang dan nyaman dalam pembelajaran.
            Pemerintah seharusnya mencontoh sistem pembelajaran yang di terapkan di negara-negara maju seperti Finlandia. Pembelajaran di Finlandia tidak memperkenankan anak-anak dibawah usia 7 tahun untuk bersekolah di tingkat dasar.  Dengan usia yang belum matang betul untuk mengenyam pendidikan di sekolah dasar, anak akan jenuh dan cenderung tak optimal mengenyam pendidikan. Selain itu, hanya ada satu tes standar wajib yang ditetapkan oleh Finlandia saat para pelajar berusia 16 tahun. Di Indonesia, kelas satu SD saja sudah dibebani dengan ulangan harian.
            Pembelajaran di Finlandia tidak membeda-bedakan tingkat kepintaran anak. Anak yang pintar maupun tidak ditempatkan pada kelas yang sama. Tidak seperti di Indonesia yang banyak terdapat kelas akselerasi, kelas unggulan, dan bahkan kelas internasional. Pembagian kelas yang diterapkan Indonesia seakan-akan menjadi jurang bagi pelajar. Selain itu, tidak ada jurang perbedaan yang signifikan antara pelajar yang pandai maupun tertinggal di negara Finlandia, sedangkan di Indonesia siswa pandai dan tertinggal tampak dengan jelas. Hal ini yang memicu adanya diskriminasi sekolah. Sekolah akan memperhatikan siswa-siswa yang berprestasi dan mengesampingkan siswa yang tertinggal.
            Guru-guru di Finlandia hanya menghabiskan 4 jam pembelajaran di kelas. Selain itu, mereka juga mendapatkan pendidikan pengembangan profesi setiap minggu. Guru disana juga menilai siswa tidak hanya dari akademis saja, akan tetapi juga melihat sikap dan tingkah laku serta karakter dari siswa yang mereka ajar. Pelajar sekolah dasar lebih diperhatikan karakternya ketimbang akademisnya karena karakter anak akan terbawa sampai dewasa kelak. Guru disana juga sangat leluasa dalam mengatur siswa-siswanya saat pembelajaran sains karena dalam saat kelas sains boleh diisi maksimal 16 siswa. Hal ini memudahkan para guru dan pelajar untuk melakukan penelitian. Di Indonesia saat penelitian pembelajaran sains masih banyak siswa yang mengantre menuggu giliran.
            Guru-guru di Finlandia juga harus mendapatkan gelar master untuk bisa mengajar di kelas. Untuk menempuh studi lanjut tersebut semua biaya akan ditanggung oleh pemerintah. Akan ada tes kemampuan guru yang diadakan rutin untuk menjamin mutu guru. Sedangkan di Indonesia, masih banyak guru yang belum lulus sarjana S1. Jika guru tersebut ingin menempuh pendidikan untuk memperoleh gelar master, kebanyakan harus menanggung biaya sendiri. Pemerintah seharusnya memperhatikan betul kompetensi yang dimiliki oleh guru. Tidak sembarangan guru bisa mengajar di sekolah agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan sesuai rencana.
            Guru sangat berpengaruh pada karakter siswa. Sekolah dasar seharusnya dijadikan tempat untuk membentuk karakter siswa. Guru-guru sekolah dasar haruslah mengenal betul karakter siswanya. Pembelajaran harusnya diisi kegiatan-kegiatan yang menyenangkan tidak hanya duduk dibangku. Banyak sekolah-sekolah dasar yang sangat tertinggal dalam segi kompetensi guru maupun fasilitas pembelajarannya. Tidak jarang diberitakan bahwa untuk pergi ke sekolah para siswa harus menempuh jalanan yang terjal dan jarak yang jauh untuk pergi ke sekolah. Padahal anak tersebut sudah sangat semangat untuk menerima pembelajaran. Jika dibiarkan terus begini, bukan tidak mungkin mereka sebagai generasi penerus akan menurun tingkat motivasi belajarnya.
            Karakter anak bisa dibentuk dengan perlakuan dari guru. Beberapa hal sederhana berikut bisa dilakukan oleh guru untuk membentuk karakter siswa.
1.      Jadikan diri sebagai contoh
Guru dipandang murid sebagai orang tua yang lebih dewasa, itu berarti murid menilai guru mereka merupakan contoh dalam bertindak dan berperilaku. Baik sikap baik maupun buruk, itu dapat mempengaruhi murid bagaimana cara bersikap dengan sesama. Hal ini tentu, membuat guru harus pandai dalam menjaga sikap untuk memberikan contoh yang terbaik. Dengan mengingat diri sendiri sebagai contoh, maka guru akan lebih berhati-hati dalam bersikap sehingga lebih bijak dari setiap tindakan yang akan diambil. Dari memberikan contoh, diharapkan murid bisa mengikuti sisi positif yang dimiliki guru.
2.      Mengapresiasi usaha siswa
Sebagai pengajar, fokus untuk menilai murid dari segi akademis memang penting. Tetapi perlu diingat juga untuk menghargai kebaikan yang dilakukan murid. Caranya dengan mengapresiasi usaha murid tanpa selalu membandingkan dengan nilai yang didapatkan. Misalnya dengan memberikan pujian bagi murid yang tepat waktu, rajin mengerjakan tugas, atau bersikap baik selama di sekolah. Dengan membiasakan ini, murid pun juga dapat mengapresiasi diri atas usaha yang telah dilakukan sehingga akan terbangun karakter yang terus mau belajar dan memperbaiki diri untuk lebih baik.
3.      Menuangkan nilai moral dalam pembelajaran
Kalau sekadar materi pelajaran, mungkin semua bisa saja tahu karena tertulis dalam buku pelajaran. Tetapi bagaimana dengan nilai moral? Ada baiknya dalam pelajaran yang diajarkan juga menanamkan nilai moral yang bisa dijadikan bahan pelajaran hidup. Misalnya, saat mengajarkan pelajaran Matematika guru tidak hanya sekadar memberikan rumus dan cara pengerjaan kepada murid. Tetapi juga bisa mengajarkan nilai kehidupan seperti dengan mengerjakan soal Matematika kita bisa belajar untuk bersabar dan berusaha untuk memecahkan suatu masalah dengan mengasah logika berpikir. Dengan begitu, nantinya ketika murid sedang menghadapi suatu masalah kedepannya, bisa berpikir optimis bahwa setiap masalah ada jalan keluarnya selama berusaha.
4.      Jujur dan terbuka pada kesalahan
Guru juga manusia, tidak luput dari kesalahan meski tidak pernah berniat melakukan hal itu. Misalnya, ketika guru datang terlambat atau salah mengoreksi jawaban murid. Untuk memberikan contoh yang baik, guru sebaiknya mau mengakui kesalahan yang dibuat sekecil apapun itu. Mungkin kadang ada rasa gengsi, tetapi ini bisa menjadi pelajaran yang baik pada murid. Bahwa sebagai manusia kita harus berani jujur sama diri sendiri dan mau mengakui kesalahan yang telah diperbuat. Dari situ, murid bisa belajar bagaimana cara untuk memperbaiki kesalahan dan berani bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuat.
5.      Memberi kesempatan siswa untuk menjadi pemimpin
Saat ini, mempunyai karakter memimpin merupakan hal yang krusial untuk dimiliki. Menyadari hal ini, ada baiknya guru juga bisa membantu anak didik untuk berlatih jiwa kepemimpinan mereka. Cara sederhananya, bisa dengan membuat tugas kelompok dan memastikan setiap anggota mempunyai kesempatan sebagai ketua kelompok. Jadi, tidak hanya murid itu-itu saja yang jadi ketua kelompok, tetapi semua bisa belajar jadi pemimpin. Setelah melakukan aktivitas ini, guru bisa mengevaluasi hal positif yang bisa jadi pembelajaran murid untuk memimpin lebih baik lagi. Berilah masukan yang memotivasi, jadi bagi murid yang merasa kurang percaya diri bisa semangat untuk terus belajar lebih baik lagi.
            Sebagai generasi penerus bangsa, masih banyak siswa yang memiliki karakter yang kurang baik. Hal ini sering dibuktikan dengan diberitakannya pelajar-pelajar yang bertindak menyalahi aturan. Seperti contohnya seorang pelajar yang tega menganiaya bahkan membunuh gurunya sendiri, terjadi tawuran antar pelajar, penggunaan narkoba, banyak pergaulan bebas, dan masih banyak lagi. Jika kejadian-kejadian tersebut terus dibiarkan tanpa ada penanganan bukan tidak mungkin generasi penerus bangsa yang berkarakter Pancasila akan binasa.
            Saat siswa beranjak remaja dan memasuki sekolah menengah, para guru pun juga harus memberikan pembelajaran sekaligus menguatkan karakter dari siswa tersebut. Guru sebaiknya mengarahkan para siswanya untuk menumbuhkan sikap ulet, semangat, dan terampil dalam mengahadapi persoalan yang ada. Siswa pada zaman sekarang sudah tidak bisa dilepaskan lagi dengan yang namanya teknologi. Dalam pembelajaran, sebaiknya guru juga memperkenalkan materi pembelajaran dengan teknologi. Dengan hadirnya teknologi di dalam pembelajaran akan menumbuhkan minat  dan karakter dari siswa itu sendiri.
            Generasi penerus harus disiapkan mulai dari sekarang. Salah satu profesi untuk menyiapkan generasi tersebut adalah guru. Guru menjadi panutan bagi siswa dalam menentukan sikap mereka. Guru tidak hanya sekedar memberikan materi pembelajaran namun juga menumbuhkan karakter Pancasila kepada siswa.

Artikel Ilmiah

Dewasa ini, kalangan siswa sering memiliki pandangan yang kurang baik tentang belajar. Siswa menganggap belajar adalah suatu kegiatan kur...