Senin, 16 Desember 2019

Guru Sebagai Panutan Pelajar


Indonesia adalah negara dengan jumlah sekolah lebih dari dua ratus ribu sekolah, dua juta tujuh ratus ribu guru, dan empat puluh lima juta murid. Namun sayangnya Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat pendidikan yang paling rendah. Menurut Deutsche Welle, Indonesia menduduki peringkat bawah yaitu peringkat 108 di dunia dengan indeks skor hanya 0,603. Skor ini masih sangat jauh dibandingkan dengan negara Singapura yang menduduki peringkat sembilan dunia dengan skor 0,768. Secara umum pendidikan di Indonesia masih kalah dengan negara Palestina, Mongolia, dan Samoa.
            Seorang peneliti bernama Lant Pritchett yang meneliti khusus anak-anak di Jakarta yang berumur 15 tahun mengungkapkan bahwa anak-anak di Jakarta jauh tertinggal 128 tahun dibandingkan dengan negara-negara lain. Menurut data dari PISA, dari tahun ke tahun ranking Indonesia selalu dibawah dalam urusan matematika, sains, dan literasi. Hal tersebut membuktikan bahwa para pelajar banyak yang merasa tidak senang dengan sekolah.
            Berbicara tentang pendidikan, pasti akan membahas tentang sekolah. Berbicara tentang sekolah pasti tentang guru. Peforma guru-guru di Indonesia dinilai sangat kurang. Hal ini dibuktikan dengan hasil Ujian Kompetensi Guru (UKG) yang menjadi program kementrian pendidikan dan kebudayaan. Dalam UKG tersebut guru-guru mendapatkan nilai dengan rata-rata nasional 53,02 dari nilai maksimal 100. Pemerintah seharusnya lebih memperhatikan kompetensi guru di Indonesia agar para pelajar merasa senang dan nyaman dalam pembelajaran.
            Pemerintah seharusnya mencontoh sistem pembelajaran yang di terapkan di negara-negara maju seperti Finlandia. Pembelajaran di Finlandia tidak memperkenankan anak-anak dibawah usia 7 tahun untuk bersekolah di tingkat dasar.  Dengan usia yang belum matang betul untuk mengenyam pendidikan di sekolah dasar, anak akan jenuh dan cenderung tak optimal mengenyam pendidikan. Selain itu, hanya ada satu tes standar wajib yang ditetapkan oleh Finlandia saat para pelajar berusia 16 tahun. Di Indonesia, kelas satu SD saja sudah dibebani dengan ulangan harian.
            Pembelajaran di Finlandia tidak membeda-bedakan tingkat kepintaran anak. Anak yang pintar maupun tidak ditempatkan pada kelas yang sama. Tidak seperti di Indonesia yang banyak terdapat kelas akselerasi, kelas unggulan, dan bahkan kelas internasional. Pembagian kelas yang diterapkan Indonesia seakan-akan menjadi jurang bagi pelajar. Selain itu, tidak ada jurang perbedaan yang signifikan antara pelajar yang pandai maupun tertinggal di negara Finlandia, sedangkan di Indonesia siswa pandai dan tertinggal tampak dengan jelas. Hal ini yang memicu adanya diskriminasi sekolah. Sekolah akan memperhatikan siswa-siswa yang berprestasi dan mengesampingkan siswa yang tertinggal.
            Guru-guru di Finlandia hanya menghabiskan 4 jam pembelajaran di kelas. Selain itu, mereka juga mendapatkan pendidikan pengembangan profesi setiap minggu. Guru disana juga menilai siswa tidak hanya dari akademis saja, akan tetapi juga melihat sikap dan tingkah laku serta karakter dari siswa yang mereka ajar. Pelajar sekolah dasar lebih diperhatikan karakternya ketimbang akademisnya karena karakter anak akan terbawa sampai dewasa kelak. Guru disana juga sangat leluasa dalam mengatur siswa-siswanya saat pembelajaran sains karena dalam saat kelas sains boleh diisi maksimal 16 siswa. Hal ini memudahkan para guru dan pelajar untuk melakukan penelitian. Di Indonesia saat penelitian pembelajaran sains masih banyak siswa yang mengantre menuggu giliran.
            Guru-guru di Finlandia juga harus mendapatkan gelar master untuk bisa mengajar di kelas. Untuk menempuh studi lanjut tersebut semua biaya akan ditanggung oleh pemerintah. Akan ada tes kemampuan guru yang diadakan rutin untuk menjamin mutu guru. Sedangkan di Indonesia, masih banyak guru yang belum lulus sarjana S1. Jika guru tersebut ingin menempuh pendidikan untuk memperoleh gelar master, kebanyakan harus menanggung biaya sendiri. Pemerintah seharusnya memperhatikan betul kompetensi yang dimiliki oleh guru. Tidak sembarangan guru bisa mengajar di sekolah agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan sesuai rencana.
            Guru sangat berpengaruh pada karakter siswa. Sekolah dasar seharusnya dijadikan tempat untuk membentuk karakter siswa. Guru-guru sekolah dasar haruslah mengenal betul karakter siswanya. Pembelajaran harusnya diisi kegiatan-kegiatan yang menyenangkan tidak hanya duduk dibangku. Banyak sekolah-sekolah dasar yang sangat tertinggal dalam segi kompetensi guru maupun fasilitas pembelajarannya. Tidak jarang diberitakan bahwa untuk pergi ke sekolah para siswa harus menempuh jalanan yang terjal dan jarak yang jauh untuk pergi ke sekolah. Padahal anak tersebut sudah sangat semangat untuk menerima pembelajaran. Jika dibiarkan terus begini, bukan tidak mungkin mereka sebagai generasi penerus akan menurun tingkat motivasi belajarnya.
            Karakter anak bisa dibentuk dengan perlakuan dari guru. Beberapa hal sederhana berikut bisa dilakukan oleh guru untuk membentuk karakter siswa.
1.      Jadikan diri sebagai contoh
Guru dipandang murid sebagai orang tua yang lebih dewasa, itu berarti murid menilai guru mereka merupakan contoh dalam bertindak dan berperilaku. Baik sikap baik maupun buruk, itu dapat mempengaruhi murid bagaimana cara bersikap dengan sesama. Hal ini tentu, membuat guru harus pandai dalam menjaga sikap untuk memberikan contoh yang terbaik. Dengan mengingat diri sendiri sebagai contoh, maka guru akan lebih berhati-hati dalam bersikap sehingga lebih bijak dari setiap tindakan yang akan diambil. Dari memberikan contoh, diharapkan murid bisa mengikuti sisi positif yang dimiliki guru.
2.      Mengapresiasi usaha siswa
Sebagai pengajar, fokus untuk menilai murid dari segi akademis memang penting. Tetapi perlu diingat juga untuk menghargai kebaikan yang dilakukan murid. Caranya dengan mengapresiasi usaha murid tanpa selalu membandingkan dengan nilai yang didapatkan. Misalnya dengan memberikan pujian bagi murid yang tepat waktu, rajin mengerjakan tugas, atau bersikap baik selama di sekolah. Dengan membiasakan ini, murid pun juga dapat mengapresiasi diri atas usaha yang telah dilakukan sehingga akan terbangun karakter yang terus mau belajar dan memperbaiki diri untuk lebih baik.
3.      Menuangkan nilai moral dalam pembelajaran
Kalau sekadar materi pelajaran, mungkin semua bisa saja tahu karena tertulis dalam buku pelajaran. Tetapi bagaimana dengan nilai moral? Ada baiknya dalam pelajaran yang diajarkan juga menanamkan nilai moral yang bisa dijadikan bahan pelajaran hidup. Misalnya, saat mengajarkan pelajaran Matematika guru tidak hanya sekadar memberikan rumus dan cara pengerjaan kepada murid. Tetapi juga bisa mengajarkan nilai kehidupan seperti dengan mengerjakan soal Matematika kita bisa belajar untuk bersabar dan berusaha untuk memecahkan suatu masalah dengan mengasah logika berpikir. Dengan begitu, nantinya ketika murid sedang menghadapi suatu masalah kedepannya, bisa berpikir optimis bahwa setiap masalah ada jalan keluarnya selama berusaha.
4.      Jujur dan terbuka pada kesalahan
Guru juga manusia, tidak luput dari kesalahan meski tidak pernah berniat melakukan hal itu. Misalnya, ketika guru datang terlambat atau salah mengoreksi jawaban murid. Untuk memberikan contoh yang baik, guru sebaiknya mau mengakui kesalahan yang dibuat sekecil apapun itu. Mungkin kadang ada rasa gengsi, tetapi ini bisa menjadi pelajaran yang baik pada murid. Bahwa sebagai manusia kita harus berani jujur sama diri sendiri dan mau mengakui kesalahan yang telah diperbuat. Dari situ, murid bisa belajar bagaimana cara untuk memperbaiki kesalahan dan berani bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuat.
5.      Memberi kesempatan siswa untuk menjadi pemimpin
Saat ini, mempunyai karakter memimpin merupakan hal yang krusial untuk dimiliki. Menyadari hal ini, ada baiknya guru juga bisa membantu anak didik untuk berlatih jiwa kepemimpinan mereka. Cara sederhananya, bisa dengan membuat tugas kelompok dan memastikan setiap anggota mempunyai kesempatan sebagai ketua kelompok. Jadi, tidak hanya murid itu-itu saja yang jadi ketua kelompok, tetapi semua bisa belajar jadi pemimpin. Setelah melakukan aktivitas ini, guru bisa mengevaluasi hal positif yang bisa jadi pembelajaran murid untuk memimpin lebih baik lagi. Berilah masukan yang memotivasi, jadi bagi murid yang merasa kurang percaya diri bisa semangat untuk terus belajar lebih baik lagi.
            Sebagai generasi penerus bangsa, masih banyak siswa yang memiliki karakter yang kurang baik. Hal ini sering dibuktikan dengan diberitakannya pelajar-pelajar yang bertindak menyalahi aturan. Seperti contohnya seorang pelajar yang tega menganiaya bahkan membunuh gurunya sendiri, terjadi tawuran antar pelajar, penggunaan narkoba, banyak pergaulan bebas, dan masih banyak lagi. Jika kejadian-kejadian tersebut terus dibiarkan tanpa ada penanganan bukan tidak mungkin generasi penerus bangsa yang berkarakter Pancasila akan binasa.
            Saat siswa beranjak remaja dan memasuki sekolah menengah, para guru pun juga harus memberikan pembelajaran sekaligus menguatkan karakter dari siswa tersebut. Guru sebaiknya mengarahkan para siswanya untuk menumbuhkan sikap ulet, semangat, dan terampil dalam mengahadapi persoalan yang ada. Siswa pada zaman sekarang sudah tidak bisa dilepaskan lagi dengan yang namanya teknologi. Dalam pembelajaran, sebaiknya guru juga memperkenalkan materi pembelajaran dengan teknologi. Dengan hadirnya teknologi di dalam pembelajaran akan menumbuhkan minat  dan karakter dari siswa itu sendiri.
            Generasi penerus harus disiapkan mulai dari sekarang. Salah satu profesi untuk menyiapkan generasi tersebut adalah guru. Guru menjadi panutan bagi siswa dalam menentukan sikap mereka. Guru tidak hanya sekedar memberikan materi pembelajaran namun juga menumbuhkan karakter Pancasila kepada siswa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel Ilmiah

Dewasa ini, kalangan siswa sering memiliki pandangan yang kurang baik tentang belajar. Siswa menganggap belajar adalah suatu kegiatan kur...